Guntingan Iklan Disimpan di Dalam Dompet: Kisah Bung Hatta dan Sepatu Bally yang Tak Mampu Dibelinya Hingga Akhir Hayatnya

www.suaramedsos.xyz

Guntingan Iklan Disimpan di Dalam Dompet: Kisah Mengharukan Bung Hatta dan Sepatu Bally yang Tak Mampu Dibelinya Hingga Akhir Hayatnya.

by@bunghattaaward

Bung yang jujur dan sederhana itu meminta dimakamkan di pekuburan umum bersama rakyatnya. Beliau akhirnya di makamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta.

Nama Mohammad Hatta tak pernah bisa dilepaskan dari perjalanan bangsa Indonesia. BungHatta rela berkorban demi kepentingan bangsa. Ia sederhana dan tak memperkaya diri sendiri. Padahal berbagai posisi penting pernah dijabatnya antara lain wakil presiden dan perdana menteri.

Begitu sederhananya sampai-sampai pria kelahiran Bukit Tinggi 12 Agustus 1902 itu hingga akhir hayatnya tak mampu membeli sepatu Bally yang sangat diimpikannya. Padahal kala itu ia seorang wakil presiden.

Suatu ketika BungHatta berjalan melewati pertokoan di luar negeri. Ia melihat sepasang sepatu Bally di etalase toko. Bung Hatta sangat ingin memiliki sepatu itu. Sampai-sampai guntingan iklan sepatu Bally itu disimpannya di dalam dompet.

Namun hingga akhir hayatnya, BungHatta tak bisa membelinya. Karena uang tabungannya tidaklah cukup karena selalu diambil untuk membiayai keperluan rumah tangga, membantu saudara dan kerabatnya.

Di usia 16 tahun, BungHatta bergabung dengan Jong Sumatranen Bond (JSB) cabang Padang. Organisasi kumpulan siswa-siswi asal Sumatra. Dari sanalah Hatta remaja mulai aktif menulis dan menuangkan ide ide kritis nya

Tahun 1921 BungHatta tiba di Belanda untuk belajar di Handels Hoge School di Rotterdam. Disana ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging, yang kemudian berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia.

Dengan tujuan memperkenalkan nama "Indonesia", BungHatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis pada tahun 1926.
Pada bulan Juli 1932, BungHatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri Belanda dan sebulan kemudian ia tiba di Jakarta

Setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pada bulan Pebruari 1934, Pemerintah Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya kepada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Para pimpinan partai itu ditahan dan kemudian dibuang ke Boven Digoel. Termasuk BungHatta

Januari 1935, BungHatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua). Dalam pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup disana.

BungHatta punya cukup banyak bahan untuk memberikan pelajaran kepada kawan-kawannya. Kumpulan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan dengan judul-judul antara lain, "Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan" dan "Alam Pikiran Yunani." sebanyak 4 jilid.

Persiapan menuju kemerdekaan, BungHatta bersama Soekarno, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik menyusun teks proklamasi kemerdekaan, tepat pada 16 Agustus 1945 malam dan berakhir pukul 03.00 pagi keesokan harinya.

Hari ini tepat 38 tahun Beliau berpulang kehadirat Tuhan. Semoga bahagia dan damai di sisi Yang Maha Kuasa. Semoga kita dapat meneladani kejujuran dan kesederhaannya
Guntingan Iklan Disimpan di Dalam Dompet: Kisah Bung Hatta dan Sepatu Bally yang Tak Mampu Dibelinya Hingga Akhir Hayatnya Guntingan Iklan Disimpan di Dalam Dompet: Kisah Bung Hatta dan Sepatu Bally yang Tak Mampu Dibelinya Hingga Akhir Hayatnya Reviewed by Soto Betawi on March 14, 2018 Rating: 5